Orang Tua Siswa MTs Welesi Tolak Pemindahan KBM ke Kota

Orang tua wali murid Madrasah Tsanawiyah (MTs) Negeri Jayawijaya di Distrik Welesi, saat jumpa pers, Senin (26/10/2026).

SUARABALIEMPAPUA.ID, WAMENA - Orang tua wali murid Madrasah Tsanawiyah (MTs) Negeri Jayawijaya di Distrik Welesi, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan, menolak keras rencana pemindahan kegiatan belajar mengajar (KBM) siswa dari Welesi ke Kota Wamena.

Rencana pemindahan tersebut disebut sedang diupayakan oleh pihak guru MTs bersama Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Jayawijaya menyusul situasi keamanan yang dinilai belum kondusif di wilayah Welesi.

Penolakan tersebut disampaikan langsung oleh Basory Asso selaku Kepala Suku Assoyelipele di Distrik Welesi melalui pernyataan sikap bersama orang tua wali murid, Senin (26/10/2026).

Basory mengatakan, pihaknya menolak rencana pemindahan tempat belajar siswa karena mempertimbangkan situasi keamanan serta jarak tempuh dari Welesi menuju Kota Wamena yang cukup jauh.

"Kami menolak keras rencana Kemenag Jayawijaya dan para guru MTs memindahkan siswa MTs Welesi belajar ke kota," kata Basory Asso.

Menurut Basory, sebelumnya Kepala Seksi Bimas Islam Kemenag Kabupaten Jayawijaya, H. Eko Haryanto, bersama para guru MTs Welesi telah bersepakat untuk melaksanakan kegiatan belajar mengajar di Kota Wamena pada pukul 13.00 hingga 15.00 WIT.

Kesepakatan tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan situasi keamanan yang dinilai tidak kondusif sehingga aktivitas pendidikan di lingkungan sekolah belum dapat berjalan normal.

"Karena situasi tidak kondusif, Kemenag Jayawijaya bersama guru MTs bersepakat untuk melaksanakan KBM di kota dari jam 13.00-15.00," ujar Basory.

Namun, orang tua wali murid meminta agar proses pendidikan tetap dilaksanakan di Welesi dengan memperhatikan keberadaan kepala sekolah yang definitif serta menetap di tempat tugas.

Basory menegaskan, keberadaan kepala sekolah yang menjalankan tugas secara langsung di Welesi sangat penting untuk menjamin kelancaran aktivitas pendidikan bagi para siswa.

"Demi kelancaran aktivitas belajar mengajar, kami minta kepala MTs harus definitif dan harus menetap di tempat tugas," tegasnya.

Sementara itu, Kepala Suku sekaligus Ketua Komite Sekolah MTs Welesi, Sadik Asso, meminta agar pihak Kemenag Jayawijaya mengevaluasi para guru yang diduga terlibat dalam kepentingan tertentu di lingkungan sekolah.

Sadik mengatakan, apabila terdapat oknum guru yang dinilai mengutamakan kepentingan tertentu sehingga berdampak terhadap keberlangsungan pendidikan, pihaknya meminta agar guru tersebut dipindahkan dari MTs Welesi.

"Kami minta jika ada oknum guru yang ikut bermain demi kepentingan tertentu di lingkungan Kemenag segera dipindahkan," kata Sadik Asso.

Ia juga menegaskan, apabila para guru tidak menjalankan tugas di tempat sebagaimana mestinya, pihak orang tua dan masyarakat akan membawa persoalan tersebut ke tingkat pusat.

Sadik menyebut, langkah tersebut akan ditempuh agar ada evaluasi terhadap pelaksanaan tugas guru, termasuk hak-hak yang diberikan kepada mereka sesuai ketentuan yang berlaku.

Sadik menambahkan, pihaknya bersama orang tua wali murid, pemuda, dan masyarakat Welesi siap memberikan jaminan keamanan bagi para guru yang menjalankan tugas di lingkungan MTs Negeri Jayawijaya.

Menurutnya, masyarakat ingin agar kegiatan belajar mengajar kembali berjalan normal sehingga para siswa dapat memperoleh hak pendidikan di wilayah mereka sendiri.

"Kami siap pasang badan menjaga guru-guru kami demi aktivitas belajar mengajar siswa MTs," kata Sadik.

Ia berharap, pihak Kemenag Jayawijaya dapat memperhatikan aspirasi orang tua wali murid serta mencari solusi bersama agar aktivitas pendidikan di Welesi kembali berjalan.

Sebelumnya, aktivitas pendidikan di MTs Negeri Jayawijaya Welesi dilaporkan lumpuh setelah seluruh guru memilih mengungsi ke Jayapura menyusul insiden penembakan yang menewaskan seorang sopir bernama Aris Sanda di jalur Trans Wamena–Nduga pada pertengahan September 2026.

Sejak kejadian tersebut, kegiatan belajar mengajar di sekolah itu tidak berjalan hingga saat ini.

Situasi tersebut menjadi perhatian orang tua wali murid yang berharap aktivitas pendidikan dapat kembali berlangsung di Welesi dengan dukungan keamanan serta kehadiran tenaga pendidik di tempat tugas.

Orang tua wali murid bersama masyarakat setempat meminta Kemenag Kabupaten Jayawijaya segera mengambil langkah untuk menyelesaikan persoalan tersebut, sehingga para siswa tidak terus kehilangan kesempatan belajar.

Mereka berharap pemerintah dan pihak sekolah dapat mengutamakan keberlangsungan pendidikan serta mempertimbangkan aspirasi masyarakat Welesi dalam menentukan kebijakan terkait tempat pelaksanaan KBM.(*)

Komentar